jump to navigation

Traveling dan Kewajiban Sosial itu 4 September 2007

Posted by moenz in Cerita ringan.
trackback

Bagi sebagian besar manusia, bepergian itu menyenangkan. Itulah sebabnya, dari SD (sejak TK, malah) sampai kuliah, bahkan hingga sudah bekerja pun, acara piknik sering menjadi agenda kita. People loves traveling. Setuju?

Melihat suasana baru, pemandangan baru. Kota yang belum pernah dijejaki, jalan yang belum pernah dilintasi, hamparan alam yang — meski “cuma” itu-itu saja: pohon, sawah, gunung, sungai, awan, mentari, langit, pantai– entah kenapa selalu mempesona dengan segala variasinya. (Tentu saja yang masih ‘asli’, bukan yang udah gundul kaya di Padalarang itu, yang sudah dijamah kerakusan manusia😦 ….) Tambah lagi, bisa bertemu kultur baru, mengingat-ingat kosakata baru, mencoba makanan baru. Komplet deh.

Jangan lupa ritual wajib yang satu ini: berburu oleh-oleh. Bisa dipastikan, ritual ini selalu ada (dan dipaksakan ada) di setiap piknik. Alasannya banyak: “Nanti ditagih orang-orang kantor yang ga ikutan”, atau “ntar ga ada buktinya, kalo pernah ke Bali”, misalnya. Malah kadang saya harus bawa “daftar penadah potensial“, kalo bepergian agak jauh, dan ketahuan orang-orang. Oleh-oleh sih ok, tapi belanjanya, belum lagi kerepotan membawanya itu lhoo… Pernah, saya memaksakan diri membawa satu tas tambahan (asli, benar-benar dedicated untuk itu sejak berangkat), demi memenuhi ‘kewajiban sosial’ yang entah sudah sejak kapan dimulainya di negeri ini. Bagaimana lagi coba, lha calon penadahnya itu lho yang bikin pening: selain anak-istri, masih ada ortu+mertua, pakde-pakde dan bude-budenya anak-anak, keponakan (yang ga cukup dihitung dengan satu jari😀 ), keluarga besar, teman-teman sejawat, rekan-rekan di kantor, tetangga…. Belum lagi kalau berurusan dengan para “pendoa profesional” , alamak..

gue doain lu baik-baik saja selama di sana yaa, eh, saya nanti dikasih buku ini-itu dari sana mau deh..

mudah-mudahan njenengan kembali lagi dengan selamat, tak kurang suatu apa, biar kita-kita bisa ngrasain makanan khas dari sana..“.

Bagaimana dengan anda? Pernah punya kejadian sama?

Comments»

1. aghus - 5 September 2007

Sebagai makhluk sosial, ga ada salahnya melakukan kewajiban sosial. Yang penting ga merasa dipaksakan sj.🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: