jump to navigation

Tangan Atas-Bawah 5 October 2007

Posted by moenz in Cetusan.
trackback

Hadits yang cukup populer di penghujung Ramadhan, salah satunya adalah:

<اليد العليا خير من اليد السفلى> al-yadu al-‘ulyaa khayrun min al-yadi as-suflaa.

Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Bagaimana status hadits ini, dan bagaimana maknanya?
Takhrij dan makna hadits
Hadits ini (atau tepatnya, penggalan hadits ini) ditemui di banyak sumber, dengan redaksi yang beragam. Dalam shahih Bukhary, penggalan hadits ini termuat beberapa kali pada beberapa bab yang berbeda [1] , demikian juga di Shahih Muslim [2]. Penggalan Hadits ini diriwayatkan dari banyak jalur, yaitu dari Abu Hurayrah r.a, Ibnu ‘Umar r.a, dan Hakim bin Hizam r.a, dengan redaksi yang berbeda-beda. Diriwayatkan pula oleh Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Malik dan Ad-Darami. Penggalan hadits di atas berderajat shahih.

Dalam salah satu redaksi hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar r.a, Rasulullah saw. menjelaskan makna hadits di atas:
al-yadu al-‘ulyaa khayrun min al-yadi as-suflaa, wa al-yadu al-‘ulyaa al-munfiqah wa al-suflaa as-saa-ilah. Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan tangan diatas adalah pemberi (yang berinfaq), dan yang dibawah adalah peminta. Salah satu perawi hadits ini, Hakim bin Hizam r.a., setelah mendengar perkataan di atas, bersumpah tidak akan mengambil harta setelah Nabi (setelah perjumpaan itu, Red.) sampai berpisah dari dunia (mati). Dan demikianlah, tatkala Abu Bakar r.a dan Umar r.a memanggilnya (tatkala mereka berdua menjadi khalifah) untuk diberi bagian dari harta fa’i, maka ia menolak keduanya, bahkan menolak pemberian seorang pun sampai ia wafat.

Dari riwayat Abu Hurayrah ra., Rasulullah saw menyatakan bahwa seorang yagn berangkat pagi-pagi untuk bekerja, mengusung kayu bakar di punggungnya dan dengan itu ia dapat bershadaqah maupun mencukupkan diri dari manusia, maka
itu lebih baik daripada orang yang meminta kepada manusia, baik tatkala ia diberi atau ditolak permintaannya.

Dari hadits-hadits shahih di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:
1. Kemuliaan orang yang memberi (tangan di atas), dan kecaman Rasulullah terhadap orang-orang yang meminta-minta (tangan di bawah). Sebagaimana ALlah menjanjikan pahala berlipat bagi orang yang senang memberi, berinfaq dan menafkahkan sebagian hartanya di jalan ALlah, baik secara diam-diam maupun terang-terangan [4]
2. kemuliaan orang yang menghidupi diri dan keluarganya dengan tangannya sendiri (dengan cara yang halal), meskipun pekerjaan itu berat dan dianggap manusia sebagai pekerjaan kasar, keras, remeh dan hanya menghasilkan sedikit uang.
3. Keutamaan untuk ‘iffah, menjaga kemuliaan diri, dan menjauh dari meminta-minta, yang menjadi salah satu ciri mu’min dalam Al-Quran [5] .

Dan dalam kehidupan sosial manusia, para peminta-minta umumnya akan dipandang rendah, hina, serta kehilangan ‘izzahnya. Seorang peminta tidak berani mengangkat muka di hadapan orang yang dimintainya, dan terikat oleh bantuan dan pemberian dari si pemberi. Demikian pula contoh aktual untuk organisasi/badan yang lebih besar, bahwa pemerintah yang meminta-minta bantuan (yang pada hakikatnya utang) dari badan-badan dan negara-negara asing, menyebabkan ketidakberanian untuk menentang maupun bersuara lain tatkala menghadapi mereka. Atau seperti permisalan pemerintahan yang meminta bantuan asing untuk menjaga negaranya dari ancaman asing, menjadi tidak berani berkata “tidak” terhadap sang “penjaga keamanan” ini. Dan itulah yang dilakukan Rasulullah, tatkala datang tawaran-tawaran menarik, “bantuan-bantuan” duniawi, ditimbangnya dalam kerangka diin, da’wah dan izzah ummat. Rasulullah bahkan lebih memilih berhutang dengan menggadaikan baju besinya daripada meminta bantuan, menadahkan tangannya pada tetangganya yang Yahudi.

Semoga ALlah menganugerahkan kemuliaan dan kehormatan pada umat ini, dan semoga kita terjauh dari sikap meminta-minta yang dicela keras ALlah dan Rasul-Nya.

Wallahu a’lam.

Maraji’
[1] Shahih Bukhari, Kitab az-Zakah (no 1360,1361,1403), kitab Al-Washaya (no 2599), kitab al-khumus (no 2974), kitab an-Nafaqaat (5040-5041) dan kitab Ar-Riqaaq (no 6067)
[2] Shahih Muslim, Kitab az-Zakah (no 1033,1034,1036,1042)
[3] Imam Nawawi, Riyaadhus Shaalihin
[4] Ali Imran:133-134, Al-Baqarah : 261
[5] Al-Baqarah : 273

Comments»

1. iugee - 5 October 2007

Hutang budi bahaya juga ya .. bisa melepas kemerdekaan seseoranga :) btw thanks bro..

2. didinkaem - 24 October 2007

ada Komunitas Tangan Diatas (TDA) yang memaknai tangan diatas sebagai kemandirian sehingga mereka membuat komunitas enterpreneur, berawal dari sebuah tulisan di blog roniyuzirman.blogspot.com yang bersambut jd aksi ^_^

3. goo zand - 2 December 2007

Ehm, sudah lama saya tidak mendengar hadits ini. Akhirnya iseng-iseng ada me-refresh lagi ingatan saya, plus bonus makna lain di balik hadits tersebut.

Thank mas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: